Ruang Rapat Sunyi, Aspirasi Warga Kutim Tak Tersampaikan

Kutai Timur – Harapan itu sempat tumbuh di Ruang Hearing DPRD Kutai Timur, Selasa (6/5/2025). Perwakilan Masyarakat Peduli Kutai Timur (MPKT) datang dengan semangat, anggota dewan hadir dengan kesiapan, dan pemerintah daerah siap mendengar. Tapi satu kursi tetap kosong hingga akhir: kursi yang seharusnya diisi oleh perwakilan PT Kaltim Prima Coal (KPC).

Agenda Rapat Dengar Pendapat (RDP) yang telah dijadwalkan ini akhirnya tak terlaksana. Ketidakhadiran KPC yang hanya mengirim surat penundaan tanpa kepastian waktu menggugurkan seluruh rencana dialog yang sudah disiapkan warga. Rapat pun hanya berlangsung tak sampai 15 menit—lebih singkat dari waktu para peserta menunggu kehadiran KPC.

“Rasanya seperti menanti seseorang yang kita percaya akan datang, tapi ternyata tidak. Kecewa itu pasti,” ungkap Yulianus Palangiran, anggota Komisi D DPRD Kutim, dengan nada yang lebih manusiawi daripada politis.

Dalam suratnya, pihak manajemen KPC menyampaikan permohonan maaf dan permintaan penundaan, namun tidak menyebutkan kapan waktu pengganti yang dimaksud. Hal ini menambah ketidakpastian bagi masyarakat yang ingin menyampaikan aspirasi tentang kebutuhan dasar dan pembangunan wilayah mereka.

Empat poin penting yang ingin dibahas warga melalui MPKT adalah: perbaikan jalan trans Rantau Pulung yang sudah lama dikeluhkan, alih fungsi Bandara Tanjung Bara agar bisa dimanfaatkan masyarakat umum, peningkatan dana tanggung jawab sosial perusahaan (CSR), serta pembangunan gedung UMKM sebagai penopang ekonomi lokal.

Yulianus mengakui, dialog yang tertunda ini bukan sekadar soal jadwal rapat, tapi tentang hubungan antarmanusia: antara masyarakat yang berharap dan pihak perusahaan yang ditunggu-tunggu kehadirannya.

“Kalau kita dianggap mitra, mari kita saling hadir. Bukan hanya hadir secara fisik, tapi hadir dengan niat baik untuk mendengar dan mencari solusi,” ucapnya.

Untuk selanjutnya, MPKT disebut akan kembali menjadwalkan undangan serupa. Meski kecewa, harapan untuk duduk bersama dan membangun Kutai Timur tetap ada.

“Kita semua ingin melihat daerah ini tumbuh. Tapi pertumbuhan yang baik dimulai dari mendengar,” tutup Yulianus dengan nada reflektif. (SH)

Loading