RIP Kehati Kutim: Upaya Menjaga Kekayaan Hayati Lewat Perencanaan Multipihak

Kutai Timur – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Kutai Timur (Kutim) sedang menyusun Rencana Induk Pengelolaan Keanekaragaman Hayati (RIP Kehati) sebagai panduan besar untuk menjaga kekayaan alam daerah.

Kepala Bidang Tata Lingkungan DLH Kutim, Adrian Wahyudi, menjelaskan bahwa penyusunan RIP Kehati menjadi langkah penting agar Kutim memiliki arah yang jelas dalam menjaga kelestarian flora dan fauna.

“Penyusunan RIP Kehati ini rencana induk pengelolaan keanekaragaman hayati yang ada di Kutai Timur,” ungkap Adrian saar diwawancarai.

Dokumen strategis tersebut mulai disusun sejak 2025, dimulai dari Focus Group Discussion (FGD) pertama pada 26 Juli.

Pada tahap awal ini, DLH mengundang seluruh OPD, pemerhati lingkungan, organisasi masyarakat, lembaga adat, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), hingga organisasi kepemudaan.

Adrian menyebut bahwa pelibatan multipihak bukan sekadar formalitas, melainkan kebutuhan nyata agar generasi muda memahami pentingnya menjaga lingkungan.

“Regenerasi ke depan harus paham terhadap apa sih rencana induk pengelolaan keanekaragaman hayati,” ujarnya.

FGD kedua dilaksanakan pada 29 Agustus 2025 dan fokus pada arah kebijakan konservasi. Seluruh masukan dikumpulkan, baik dari peserta luring maupun daring yang berasal dari kementerian hingga provinsi.

Setelah rangkaian diskusi, DLH menyebarkan Google Form untuk memperkaya data dan melengkapi dokumen. Semua hasilnya kemudian diekspos dalam konsultasi publik yang digelar hari ini.

Menurutnya, RIP Kehati akan menjadi dasar hukum bagi pengelolaan kawasan ke depan, sekaligus landasan memasukkan program konservasi ke dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD).

Dengan rencana induk ini, setiap upaya perlindungan lingkungan memiliki pijakan yang kuat dan terukur.

Dirinya berharap dokumen ini tidak hanya menjadi arsip, tetapi benar-benar digunakan sebagai kompas ekologis Kutim di masa mendatang.

Ia menegaskan bahwa kerja penyusunan RIP Kehati adalah modal penting bagi keberlanjutan daerah.

Kutim bukan hanya wilayah industri, tetapi juga penyimpan kekayaan hayati yang unik dan terancam. Dengan rencana yang terstruktur, generasi yang akan datang memiliki peluang lebih besar menikmati kualitas lingkungan yang baik. (ADV/TS)

Loading