Indeks

Gangguan Sinyal Hambat Rujukan Pasien dari Wilayah Terpencil Kutim

Kutai Timur – Keterbatasan jaringan komunikasi masih menjadi tantangan dalam proses rujukan pasien dari sejumlah wilayah pelayanan kesehatan di Kabupaten Kutai Timur (Kutim). Gangguan sinyal dapat menghambat pengiriman informasi melalui Sistem Rujukan Terintegrasi (Sisrute), terutama ketika pasien membutuhkan penanganan medis secepatnya.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kutim, Yuwana Sri Kurniawati, mengatakan kendala jaringan terkadang terjadi di lapangan, termasuk pada fasilitas puskesmas yang hendak merujuk pasien ke rumah sakit. Kondisi tersebut perlu diantisipasi agar gangguan komunikasi tidak memperlambat proses penanganan pasien.

“Namanya kendala di lapangan ya kadang ada pastilah ada. Misalnya dari puskesmas, puskesmas ada kendala sinyalnya,” ungkap Yuwana.

Sisrute merupakan sistem yang digunakan untuk mengirimkan informasi rujukan pasien dari fasilitas kesehatan pengirim kepada rumah sakit tujuan secara daring. Melalui sistem ini, rumah sakit dapat mengetahui adanya pasien yang akan dirujuk sehingga koordinasi antara fasilitas kesehatan dapat dilakukan sebelum pasien tiba.

Namun, pelaksanaan sistem tersebut bergantung pada ketersediaan jaringan internet. Ketika koneksi mengalami gangguan atau tidak tersedia, informasi rujukan berisiko tidak terkirim tepat waktu. Situasi ini menjadi perhatian ketika kondisi pasien di puskesmas sudah memerlukan penanganan lebih lanjut dengan segera.

Yuwana menjelaskan, petugas kesehatan di lapangan harus mempertimbangkan kondisi pasien dalam menentukan langkah selanjutnya. Jika pasien membutuhkan penanganan cepat, proses pengiriman tidak dapat terlalu lama tertahan hanya karena kendala teknis pada sistem komunikasi.

“Sementara yang di puskesmas pasiennya ini sudah kondisinya kurang bagus ya. Jadi harus segera dikirim,” ungkap Yuwana.

Salah satu situasi yang disampaikan Yuwana berkaitan dengan rencana rujukan pasien menuju RSUD Kudungga. Ketika jaringan di puskesmas bermasalah, informasi mengenai pasien yang akan dirujuk bisa belum diterima oleh rumah sakit melalui Sisrute. Akibatnya, petugas perlu memastikan kembali bahwa rumah sakit tujuan telah memperoleh pemberitahuan.

“Sementara Kudungga ternyata belum menerima karena sinyalnya ini tadi bermasalah. Nah, belum ada laporan,” ungkapnya.

Untuk mengatasi kondisi tersebut, petugas menggunakan jalur komunikasi alternatif ketika Sisrute tidak dapat berjalan dengan baik. Koordinasi dapat dilakukan melalui sambungan telepon maupun pesan percakapan agar rumah sakit tetap mendapatkan informasi mengenai pasien yang akan dikirim.

“Biasanya harus dibantu seperti itu untuk daerah-daerah yang memang ada kendala dari sinyal atau mungkin pas ada gangguan gitu ya,” lanjutnya.

Penggunaan komunikasi alternatif tersebut menjadi langkah untuk menjaga koordinasi antara puskesmas dan rumah sakit ketika sistem digital mengalami hambatan. Dengan adanya pemberitahuan melalui jalur lain, petugas dapat menyampaikan informasi rujukan tanpa hanya bergantung pada koneksi internet.

Kondisi ini menunjukkan bahwa kelancaran rujukan pasien tidak hanya ditentukan oleh ketersediaan tenaga medis dan fasilitas kesehatan, tetapi juga oleh dukungan jaringan komunikasi. Di wilayah yang memiliki keterbatasan sinyal, gangguan konektivitas dapat menjadi tantangan tersendiri dalam menjalankan prosedur rujukan secara daring.

Dinkes Kutim tetap menggunakan Sisrute sebagai bagian dari proses rujukan pelayanan kesehatan. Namun, ketika terjadi gangguan jaringan, petugas perlu melakukan koordinasi tambahan untuk memastikan informasi pasien sampai kepada rumah sakit tujuan.

Melalui koordinasi antara puskesmas dan rumah sakit, proses rujukan diharapkan tetap dapat berjalan meskipun menghadapi kendala teknis. Kecepatan penyampaian informasi menjadi hal penting agar pasien dari wilayah dengan keterbatasan jaringan tetap dapat segera dikirim untuk memperoleh penanganan sesuai kebutuhannya. (EL/ADV)

Exit mobile version