Kutai Timur – Dinas Kesehatan Kabupaten Kutai Timur (Dinkes Kutim) memperkuat upaya pencegahan HIV melalui edukasi kesehatan bagi pelajar tingkat SMP, SMA, dan SMK. Sebanyak tujuh penyuluh dengan latar belakang kesehatan disiapkan untuk memberikan informasi kepada remaja mengenai risiko penularan HIV serta pentingnya menjaga kesehatan diri.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Dinkes Kutim, Sumarno, menjelaskan bahwa para penyuluh berasal dari tenaga profesional di bidang kesehatan, termasuk perawat, bidan, dan psikolog. Mereka dilibatkan untuk menyampaikan materi kepada siswa dengan pendekatan yang sesuai dengan lingkungan pendidikan dan kelompok usia remaja.
“Di Dinkes ini kita ngambil tujuh penyuluh HIV. Yang kita ambil anak-anak yang profesional ya kita ambil dari kesehatan kemudian dari perawat dari bidan dan dari psikolog,” ujar Sumarno.
Menurutnya, pemberian edukasi sejak usia sekolah menjadi bagian penting dalam membangun pemahaman yang benar mengenai HIV. Melalui penyuluhan, pelajar diharapkan dapat mengenali informasi tentang penularan HIV, memahami pentingnya pencegahan, serta mengetahui perlunya menjaga perilaku sehat dalam kehidupan sehari-hari.
Penyampaian informasi di lingkungan sekolah juga menjadi salah satu cara untuk memperluas jangkauan edukasi kesehatan kepada kelompok remaja. Dengan melibatkan tenaga yang memiliki latar belakang kesehatan, materi diharapkan dapat disampaikan secara tepat dan mudah dipahami oleh siswa.
Sumarno menyebut HIV masih menjadi perhatian di Kutai Timur. Ia menggambarkan kondisi kasus HIV seperti fenomena gunung es, yakni jumlah kasus yang terlihat belum tentu menunjukkan keseluruhan kondisi yang ada di masyarakat.
“Nah, HIV ini juga kita juga jadi penyakit HIV ini juga di Kutim juga tinggi. Ya, artinya HIV ini kan kayak fenomena gunung es ya. Kelihatan sedikit paling ada padahal banyak,” ungkapnya.
Atas kondisi tersebut, upaya pencegahan tidak hanya dilakukan melalui penyuluhan, tetapi juga melalui pemeriksaan terhadap kelompok yang dinilai memiliki risiko penularan. Langkah ini menjadi bagian dari upaya untuk meningkatkan kewaspadaan dan mendukung penanganan HIV sesuai kebutuhan kesehatan masyarakat.
Dalam pelaksanaannya, Dinkes Kutim turut bekerja sama dengan sejumlah mitra, termasuk Komisi Penanggulangan AIDS Daerah (KPAD). Kolaborasi tersebut mendukung upaya pengendalian HIV melalui edukasi dan kegiatan lain yang berkaitan dengan pencegahan penularan.
Di lingkungan pendidikan, penyuluhan diharapkan membantu siswa memperoleh pengetahuan kesehatan yang benar sehingga dapat memahami risiko dan langkah pencegahan secara lebih baik. Penyampaian materi juga perlu memperhatikan cara komunikasi yang bertanggung jawab agar tidak menimbulkan kesalahpahaman maupun stigma terhadap orang yang hidup dengan HIV.
Sementara itu, jumlah kasus HIV di Kutai Timur masih memerlukan konfirmasi lebih lanjut sebelum disampaikan sebagai angka resmi. Kepastian data diperlukan agar informasi mengenai perkembangan kasus dapat disampaikan secara akurat kepada masyarakat.
Melalui pengerahan tujuh penyuluh dan kerja sama dengan mitra terkait, Dinkes Kutim berupaya memperluas jangkauan edukasi HIV di kalangan pelajar. Upaya ini diharapkan dapat meningkatkan pemahaman remaja, memperkuat kesadaran mengenai pencegahan, serta mendorong masyarakat memperoleh informasi kesehatan dari sumber yang tepat. (EL/ADV)
