Bankeudes Swargabara Capai 80 Persen untuk Infrastruktur, Pengadaan 60 Persen

Kutai Timur – Realisasi Bantuan Keuangan Khusus Desa (Bankeudes) di Desa Swargabara, Kecamatan Sangatta Utara, Kabupaten Kutai Timur (Kutim), terus berjalan dengan capaian yang berbeda antara pekerjaan fisik dan pengadaan barang. Hingga saat ini, pembangunan infrastruktur yang bersumber dari Bankeudes 2025 telah terealisasi sekitar 80 persen, sementara pengadaan barang berada di kisaran 60 persen.

Sekretaris Desa (Sekdes) Swargabara, Rullyanti, menyampaikan bahwa pekerjaan infrastruktur menjadi salah satu bagian yang lebih dahulu dikerjakan. Pembangunan tersebut dilaksanakan berdasarkan kebutuhan yang sebelumnya telah diusulkan oleh masing-masing Rukun Tetangga (RT).

“Kalau yang terkait mengenai infrastruktur dari Bankeudes, untuk 2025 itu saya sudah bisa mengatakan mungkin sekitar 80 persen sudah dilaksanakan semua,” kata Rullyanti saat diwawancarai di Desa Swargabara.

Sejumlah pembangunan fisik yang telah berjalan mencakup jalan dan drainase. Pelaksanaan pekerjaan tersebut dilakukan di lingkungan masyarakat sesuai usulan yang telah disampaikan. Proses pengerjaan infrastruktur juga berjalan lebih awal karena terdapat tahapan penyediaan material dan pekerjaan langsung di lapangan.

Berbeda dengan pekerjaan fisik, realisasi pengadaan barang masih berada di angka sekitar 60 persen. Salah satu penyebabnya adalah pemerintah desa masih melakukan penyesuaian terhadap spesifikasi barang yang diajukan oleh masing-masing RT.

“Kalau pengadaan itu mungkin sekitar 60 persen karena memang ada beberapa yang kami masih menyamakan. Kadang-kadang usulan RT itu misalnya dia maunya sound system, pengadaan sound system. Tapi kami juga perlu tahu spesifikasi yang terbaik yang mana,” terang Rullyanti.

Menurutnya, usulan masyarakat menjadi dasar dalam menentukan barang yang akan dibeli, tetapi spesifikasi tetap harus diperhatikan agar barang yang diperoleh benar-benar sesuai kebutuhan. Karena itu, pemerintah desa tidak serta-merta melakukan pembelian hanya berdasarkan nama barang yang tercantum dalam usulan.

Keterbatasan ketersediaan barang di wilayah Sangatta juga menjadi pertimbangan dalam proses tersebut. Jika barang dengan spesifikasi yang dibutuhkan tidak ditemukan di daerah setempat, pemerintah desa akan mencari penyedia dari luar kota.

“Kalau kami tidak mendapatkan spesifikasi yang ada di Sangatta, maka kami akan mencari di luar kota yang spesifikasi yang diinginkan itu masuk dengan yang diusulkan,” paparnya.

Pelaksanaan Bankeudes sendiri dibagi berdasarkan bidang yang menangani kegiatan. Rullyanti menjelaskan, tim yang berkaitan dengan kesejahteraan rakyat menangani pembangunan infrastruktur, sedangkan urusan umum bertugas pada bagian pengadaan barang. Kedua bagian tersebut tetap bekerja secara bersamaan sesuai tugas masing-masing.

Beberapa bentuk pengadaan yang sudah berjalan antara lain sound system, CCTV dan lampu jalan. Pada saat yang sama, pekerjaan fisik berupa pembangunan jalan dan drainase juga terus dilaksanakan di sejumlah wilayah.

Dengan capaian sekitar 80 persen pada pembangunan infrastruktur, Pemdes Swargabara masih melanjutkan sejumlah pekerjaan fisik yang belum selesai. Sementara untuk pengadaan, proses dilakukan secara bertahap sembari memastikan spesifikasi barang sesuai dengan kebutuhan setiap RT.

Perbedaan progres tersebut menunjukkan bahwa realisasi Bankeudes tidak seluruhnya berjalan dengan kecepatan yang sama. Pekerjaan infrastruktur telah lebih dahulu mencapai capaian tinggi, sedangkan pengadaan masih membutuhkan proses penyesuaian agar barang yang disediakan sesuai dengan usulan dan kebutuhan masyarakat di masing-masing wilayah. (NY/ADV)

Loading