Kutai Timur — Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Pemkab Kutim) mulai memperkenalkan mekanisasi pertanian sebagai langkah transformasi menuju sistem produksi yang lebih efisien, modern, dan berdaya saing.
Program ini menjadi bagian dari strategi jangka panjang untuk memperkuat ketahanan pangan sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani.
Melalui program tersebut, berbagai alat pertanian modern seperti traktor roda empat, mesin tanam otomatis, mesin panen, hingga sistem irigasi berbasis teknologi mulai diperkenalkan kepada kelompok tani di sejumlah kecamatan.
Mekanisasi ini diharapkan mampu memangkas waktu kerja, menekan biaya produksi, serta meningkatkan hasil panen secara signifikan.
Bupati Kutim, Ardiansyah Sulaiman, mengatakan bahwa sektor pertanian harus segera beradaptasi dengan kemajuan teknologi agar tidak tertinggal dan tetap produktif di tengah tantangan zaman.
“Pertanian kita harus bertransformasi. Tidak bisa lagi mengandalkan cara lama. Dengan teknologi, pekerjaan petani menjadi lebih ringan, cepat, dan hasilnya juga lebih maksimal,” ujar Ardiansyah dalam pidatonya.
Ia menambahkan, modernisasi pertanian juga menjadi upaya pemerintah untuk menghadapi tantangan menurunnya minat generasi muda terhadap sektor pertanian. Dengan pendekatan berbasis teknologi, pertanian diharapkan kembali menjadi sektor yang diminati.
“Kita ingin anak muda melihat bertani sebagai profesi yang modern, profesional, dan menjanjikan masa depan,” tegasnya.
Untuk memastikan teknologi yang diterapkan benar-benar sesuai dengan karakteristik lahan di Kutai Timur, pemerintah juga menggandeng perguruan tinggi serta lembaga riset pertanian dalam proses uji coba dan pendampingan. Kolaborasi ini bertujuan agar mekanisasi tidak hanya diterapkan, tetapi juga berkelanjutan dan tepat guna.
Selain meningkatkan produktivitas, mekanisasi pertanian diyakini mampu mempercepat proses tanam dan panen, meminimalkan risiko gagal panen, serta memperkuat posisi petani dalam rantai ekonomi.
Pemkab Kutim berharap, dengan transformasi menuju pertanian modern ini, sektor pertanian tidak hanya menjadi tulang punggung ketahanan pangan daerah, tetapi juga motor penggerak ekonomi masyarakat perdesaan secara berkelanjutan.(ADV/TS)
