Kutai Timur – Pemerintah Kecamatan Sangatta Utara melakukan monitoring terhadap pelaksanaan Bantuan Keuangan Khusus Desa (Bankeudes) di Desa Swargabara, Kabupaten Kutai Timur (Kutim). Pemantauan dilakukan dengan mendatangi langsung lingkungan Rukun Tetangga (RT) untuk melihat realisasi pembangunan dan pengadaan yang sebelumnya diusulkan masyarakat.
Sebanyak 56 RT yang berada di Desa Swargabara menjadi sasaran monitoring. Kegiatan tersebut dilaksanakan secara bertahap selama tiga hari dengan menyusuri sejumlah dusun dan kawasan permukiman yang menjadi lokasi pelaksanaan program.
Sekretaris Desa (Sekdes) Swargabara, Rullyanti, menerangkan bahwa pengecekan ke lapangan dilakukan karena sebagian besar program Bankeudes berkaitan langsung dengan kebutuhan yang berasal dari masing-masing RT. Dengan demikian, kondisi dan realisasi program dinilai perlu dilihat di lokasi penggunaannya.
“Semua barang-barang pengadaan dan infrastruktur yang dibangun adalah di wilayah kerja RT masing-masing. Jadi makanya monitoringnya itu di wilayah RT,” kata Rullyanti saat diwawancarai di Desa Swargabara.
Dalam proses tersebut, tim kecamatan tidak hanya memeriksa pembangunan infrastruktur. Berbagai barang hasil pengadaan juga turut dilihat untuk memastikan pelaksanaannya sesuai dengan kebutuhan dan usulan dari lingkungan masing-masing.
Beberapa bentuk pengadaan yang ditemukan mencakup sound system, tenda, kursi serta berbagai sarana dan prasarana untuk menunjang kegiatan masyarakat. Ada pula RT yang mengarahkan bantuan tersebut untuk mendukung aktivitas ekonomi warga.
Sarana pendukung usaha kuliner menjadi salah satu contohnya. Sejumlah RT mengusulkan alat prasmanan dan kompor yang dapat dimanfaatkan untuk menunjang kegiatan usaha masyarakat di lingkungan setempat.
Usulan di bidang olahraga juga terdapat di beberapa wilayah. Menurut Rullyanti, terdapat dusun yang memiliki aktivitas olahraga sehingga membutuhkan perlengkapan penunjang. Salah satunya berupa peralatan olahraga pickleball, seperti raket dan net.
Selain kebutuhan ekonomi dan olahraga, sarana untuk kegiatan gotong royong turut masuk dalam daftar yang diperiksa tim saat monitoring. Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa pemanfaatan Bankeudes di Swargabara mencakup berbagai kebutuhan warga, tidak terbatas pada pembangunan fisik.
Kunjungan dilakukan dengan pembagian wilayah. Tim sebelumnya telah mendatangi sejumlah RT yang berada di Dusun 1 dan Dusun 2. Monitoring kemudian berlanjut ke kawasan G House dan Lembah, sebelum diteruskan ke Dusun 3, Dusun 4 serta kawasan Poros Kabu.
Rullyanti menilai pengecekan langsung menjadi bagian penting dalam memastikan program yang telah diajukan oleh masing-masing RT benar-benar terlaksana di lapangan. Pemantauan juga membantu pemerintah desa melihat perkembangan pelaksanaan Bankeudes sekaligus mengetahui kebutuhan masyarakat yang muncul di setiap wilayah.
“Memang dari 56 RT yang ada di Swargabara itu dimaksimalkan sekali selama tiga hari ini untuk dikunjungi, dimonitor oleh tim dari kecamatan,” jelasnya.
Dengan monitoring yang mencakup seluruh 56 RT, pelaksanaan Bankeudes di Desa Swargabara diharapkan tetap berjalan berdasarkan kebutuhan masing-masing lingkungan. Penggunaan bantuan pun mencakup pembangunan maupun penyediaan sarana yang mendukung aktivitas sosial, ekonomi, olahraga, dan kegiatan masyarakat lainnya. (NY/ADV)
![]()






