Diskop UMKM Kutim Dorong Koperasi Sawit Mandiri Naik ke Hilirisasi

Kutai Timur — Pengembangan koperasi berbasis perkebunan kelapa sawit mulai diarahkan tidak hanya pada penguatan kelembagaan dan pengelolaan hasil kebun, tetapi juga pada peluang hilirisasi.

Dinas Koperasi dan Usaha Mikro Kecil (UMK) Kabupaten Kutai Timur (Kutim) melihat koperasi sawit mandiri memiliki potensi untuk mengembangkan usaha hingga pengolahan hasil perkebunan.

Kepala Dinas Koperasi dan UMK Kutim, Marhadyn, mengatakan gagasan tersebut muncul setelah pihaknya melihat perkembangan koperasi sawit mandiri di wilayah Sumatera.

Menurutnya, terdapat koperasi yang telah mampu mengembangkan usaha hingga memiliki fasilitas pengolahan minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO).

“Beberapa koperasi di Sumatera itu memang sudah kuat. Malah setingkat koperasi unit desa mampu memiliki pabrik CPO dengan kapasitas 40 ton per jam,” ujar Marhadyn saat ditemui di ruang kerjanya.

Marhadyn menjelaskan bahwa koperasi yang menjadi rujukan tersebut bukan merupakan koperasi plasma yang bekerja sama dengan perusahaan, melainkan koperasi sawit mandiri yang anggotanya merupakan petani yang mengelola kebun sendiri.

“Kategori bukan koperasi plasma, tapi koperasi sawit mandiri. Jadi dia tidak bekerja sama dengan perusahaan, tapi anggotanya adalah petani-petani sawit yang membangun kebunnya sendiri, bukan korporasi,” jelasnya.

Menurutnya, pola tersebut dinilai memiliki peluang untuk dikembangkan di Kutim mengingat daerah ini memiliki potensi perkebunan kelapa sawit yang besar.

Karena itu, pihaknya mulai melihat kemungkinan mendorong koperasi yang telah memiliki kelembagaan dan jumlah anggota yang kuat untuk mengembangkan usaha pengolahan.

“Saya sudah komunikasi dengan Pak Wakil Bupati supaya kami akan mendorong satu-dua koperasi yang sudah sangat kuat secara keanggotaan dan pengelolaannya untuk bagaimana kita dorong untuk memiliki pabrik CPO,” tuturnya.

Pengembangan tersebut diharapkan dapat membuat koperasi memiliki peran lebih besar dalam rantai usaha perkebunan, termasuk membantu meningkatkan posisi petani dalam pengelolaan hasil produksi.

Dirinya menyebut peluang pembiayaan juga sedang dijajaki melalui lembaga yang memiliki fungsi mendukung pengembangan usaha koperasi. Menurutnya, pembiayaan tersebut dapat menjadi salah satu alternatif apabila koperasi telah memenuhi persyaratan untuk melakukan ekspansi usaha.

“Lembaga Penjamin Dana Bergulir Koperasi itu siap membantu koperasi mana yang akan ekspansi usaha dengan padat modal seperti itu, dengan bunga yang kompetitif,” katanya.

Diskop UMKM Kutim akan mendorong penguatan koperasi yang dinilai memiliki kesiapan dari sisi kelembagaan dan pengelolaan.

Pengembangan tersebut diharapkan membuka peluang agar potensi perkebunan sawit dapat memberikan nilai tambah yang lebih besar bagi masyarakat melalui koperasi. (TS/ADV)

Loading