Kutai Timur — Gebyar Koperasi dan Usaha Mikro Kecil (UKM) di Kabupaten Kutai Timur (Kutim) tidak dirancang sekadar menjadi ajang pameran produk. Kegiatan tersebut dikembangkan dengan konsep yang menghubungkan koperasi dengan pelaku usaha unggulan di wilayah masing-masing, sehingga produk usaha lokal ikut mendapat ruang untuk diperkenalkan kepada masyarakat.
Kepala Bidang Kelembagaan dan Pengawasan Dinas Koperasi (Diskop) dan UMK Kutim, Firman Wahyudi, mengatakan konsep tersebut menjadi salah satu hal yang membedakan pelaksanaan Gebyar Koperasi dan UKM.
Menurutnya, koperasi tidak hanya diminta hadir dalam kegiatan, tetapi juga membawa pelaku UKM unggulan dari wilayah masing-masing. Produk yang ditampilkan dapat berupa kerajinan maupun makanan.
“Konsep kerja gebyar itu bukan hanya pameran, tapi kita memberikan kewajiban pada koperasi untuk membawa UKM unggulan di wilayah masing-masing,” ujar Firman saat diwawancarai di ruang kerjanya.
Firman menjelaskan bahwa keterlibatan UKM melalui koperasi diharapkan membuat kegiatan tersebut tidak hanya memberikan ruang bagi koperasi, tetapi sekaligus menghidupkan pelaku usaha yang berada di wilayah kerja koperasi.
“Mau itu produk kerajinan, mau itu produk makanan, jadi hidup juga UKM di wilayahnya dan unggulan,” ucapnya.
Konsep tersebut menurutnya telah dipresentasikan kepada empat deputi di kementerian. Dengan pola tersebut, Gebyar Koperasi dan UKM diarahkan menjadi kegiatan yang mempertemukan koperasi dan pelaku usaha dengan masyarakat melalui produk yang mereka hasilkan.
Dari pelaksanaan kegiatan tersebut, dirinya menyebut perputaran ekonomi yang tercatat mencapai sekitar Rp1,7 miliar dalam waktu lima hari.
“Alhamdulillah kemarin itu terakhir itu perputaran pada saat Gebyar Koperasi UKM itu 1,7 miliar sekian dan hanya lima hari,” katanya.
Menurut Firman, capaian tersebut menunjukkan antusiasme yang muncul selama pelaksanaan kegiatan. Ia melihat konsep yang mengikutsertakan UKM unggulan dari berbagai wilayah memberikan ruang lebih luas bagi produk lokal untuk ditampilkan.
“Perputaran di pada saat Gebyar Koperasi UKM itu 1,7 miliar sekian dan hanya lima hari. Itu antusiasnya,” ungkapnya.
Selain menjadi ruang promosi, kegiatan tersebut juga menjadi bagian dari upaya mempertemukan produk usaha dengan masyarakat.
Koperasi berperan membawa potensi usaha yang ada di wilayah masing-masing sehingga produk yang ditampilkan tidak hanya berasal dari satu jenis usaha.
Firman mengatakan pendekatan tersebut menjadi bagian dari gagasan pengembangan kegiatan koperasi dan UKM di Kutai Timur. Menurutnya, keberadaan koperasi dapat sekaligus menjadi penghubung bagi pelaku UKM untuk memperkenalkan produk unggulan yang mereka miliki.
Dengan konsep tersebut, Gebyar Koperasi dan UKM tidak hanya menempatkan koperasi sebagai peserta kegiatan, tetapi juga memberikan ruang bagi pelaku usaha di wilayah untuk ikut tampil. Perputaran sekitar Rp1,7 miliar dalam lima hari menjadi salah satu catatan dari pelaksanaan kegiatan tersebut.
Ke depan, konsep serupa dapat menjadi ruang untuk mempertemukan potensi koperasi dan UKM di berbagai wilayah Kutim, sekaligus memperkenalkan produk lokal kepada masyarakat melalui kegiatan yang melibatkan pelaku usaha secara langsung. (TS/ADV)
![]()






